![]() |
| Foto Narasumber (Kak Dedek, Ibu Diana, dan Kak Ruth Ninajanty) |
Jujur, dulu aku selalu mikir kalau urusan keuangan itu “nanti aja” kalau sudah kerja. Selama masih kuliah dan masih dapat uang bulanan dari orang tua, rasanya cukup pakai seperlunya, sisanya ya dinikmati. Tapi setelah ikut webinar “Literasi Tinggi Risiko Rendah: Kartini Modern Melek Finansial” bareng Female Digest yang disponsori oleh Nutrifood melalui Tropicana Slim dan Paragon Corporation melalui Wardah Beauty, aku mulai sadar setelah ikut acara ini ternyata justru di fase ini kita harus mulai belajar ngatur keuangan.
Sebagai anak kuliahan (sekarang sedang coas semester akhir), apalagi perempuan, kebutuhan kita itu nggak sedikit. Mulai dari makan, transport, kuota, sampai kebutuhan personal kayak skincare, body care, dan hal-hal kecil lain yang kadang nggak kerasa tapi kalau dijumlahin lumayan juga. Dulu aku sering banget ngerasa uang bulanan cepat habis tanpa tahu ke mana perginya. Ternyata masalahnya bukan di jumlah uangnya, tapi di cara aku mengelolanya.
Sekarang aku mulai belajar pelan-pelan. Hal pertama yang aku ubah adalah mindset: nabung itu bukan dari sisa, tapi harus disisihin di awal. Jadi begitu uang bulanan masuk, aku langsung pisahin sebagian untuk ditabung. Nggak perlu besar, yang penting konsisten. Dari situ aja sudah bikin aku lebih tenang, karena setidaknya punya pegangan kalau ada kebutuhan mendadak.
Selain itu, aku juga mulai biasain masak sendiri di kos. Awalnya karena pengen hemat, tapi ternyata banyak bonusnya. Selain lebih murah, aku juga jadi lebih aware sama apa yang aku makan. Nggak harus masak yang ribet, yang penting cukup untuk sehari-hari. Sesekali tetap boleh jajan atau nongkrong, tapi sekarang lebih terkontrol, nggak impulsif kayak dulu.
Ngomongin impulsif, ini sih yang paling relate sama kehidupan anak muda sekarang. Jujur aja, godaan terbesar itu bukan dari kebutuhan, tapi dari scroll media sosial. Lagi santai buka HP, tiba-tiba lihat promo, flash sale, atau diskon “terbatas”. Rasanya kayak sayang banget kalau dilewatkan, padahal sebenarnya nggak butuh-butuh amat. Dari webinar itu aku baru sadar kalau banyak fitur di platform digital memang didesain untuk bikin kita terus klik, terus lihat, dan akhirnya beli.
Sekarang aku punya aturan sederhana buat diri sendiri: tahan 24 jam sebelum beli sesuatu. Kalau hari ini aku ngerasa pengen banget beli, aku simpan dulu di keranjang. Besoknya baru aku cek lagi, masih butuh atau cuma keinginan sesaat. Surprisingly, banyak banget yang akhirnya nggak jadi dibeli. Dari situ aku belajar bedain mana kebutuhan, mana sekadar keinginan.
Tapi yang menarik, jadi hemat bukan berarti harus mengorbankan self-care. Buat aku pribadi, merawat diri tetap penting. Skincare, body care, atau sekadar me-time itu bukan hal yang harus dihilangkan, tapi lebih ke bagaimana kita mengaturnya dengan bijak. Misalnya, aku lebih pilih beli produk yang memang sudah cocok dan dipakai rutin, daripada coba-coba terus karena tergoda review atau tren.
Dari sisi perencanaan, aku juga mulai belajar membagi uang bulanan ke beberapa pos sederhana:
kebutuhan harian (makan, transport, dll)
tabungan
self-care / keinginan
Dengan cara ini, aku jadi lebih punya kontrol. Kalau pos “keinginan” sudah habis, ya berarti harus nahan sampai bulan berikutnya. Awalnya memang terasa membatasi, tapi lama-lama justru bikin lebih tenang karena semuanya lebih terarah.
Hal lain yang cukup membuka mata dari webinar itu adalah soal peran perempuan dalam keuangan. Ternyata, di banyak kasus, perempuan justru jadi pengelola keuangan baik untuk diri sendiri maupun keluarga nanti. Jadi kalau dari sekarang kita nggak belajar, ke depannya bisa lebih sulit. Apalagi ada kemungkinan perempuan mengalami fase tidak berpenghasilan, misalnya saat memilih fokus ke keluarga. Itu artinya, kemampuan mengelola uang jadi semakin penting.
Selain itu, aku juga jadi lebih aware soal keamanan di dunia digital. Sekarang banyak banget modus penipuan yang kelihatannya meyakinkan link aneh, pesan mengatasnamakan pihak tertentu, atau tawaran yang terlalu bagus untuk jadi kenyataan. Dulu mungkin aku akan langsung klik tanpa pikir panjang, tapi sekarang lebih hati-hati. Aku biasakan cek dulu sumbernya, lihat detailnya, dan kalau ragu ya mending diabaikan.
Intinya, literasi keuangan digital itu bukan sesuatu yang ribet atau harus nunggu punya penghasilan besar. Justru dari hal-hal kecil yang kita lakukan sekarang ngatur uang bulanan, nahan diri dari belanja impulsif, sampai lebih bijak dalam menggunakan platform digital itu sudah termasuk langkah besar.
Sekarang aku melihat jadi “perempuan mandiri” itu bukan cuma soal punya penghasilan sendiri, tapi juga soal bisa mengelola apa yang kita punya dengan bijak. Nggak harus sempurna, nggak harus langsung jago, tapi yang penting mulai dulu.
Karena pada akhirnya, kebiasaan kecil yang kita bangun hari ini akan sangat berpengaruh ke masa depan. Dan buat aku, perjalanan belajar ini bukan tentang jadi pelit atau membatasi diri, tapi tentang hidup lebih sadar, lebih terarah, dan lebih tenang.
Pelan-pelan, tapi pasti. Karena versi terbaik dari diri kita juga dibentuk dari keputusan-keputusan keciltermasuk soal bagaimana kita memperlakukan uang.
Aku mau ucapin terima kasih buat dua Narasumber Kak Dedek Gunawan (Financial Planner) dan Ibu Diana Anggraini (Dosen LSPR) juga Moderator kece Kak Ruth Ninajanty atas ilmunya yang sangat berguna buat aku secara jangka panjang.

No comments:
Post a Comment